Rabu, 03 Oktober 2012

PERKELAHIAN ANTAR PELAJAR


PERKELAHIAN ANTAR PELAJAR

Perkelahian atau yang sering disebut dengan tawuran sering terjadi diantara para pelajar. Bukan cuma para mahasiswa melainkan para pelajar pun ikut andil dalam hal ini. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja. Karena anggapan itu, perkelahian sudah menjadi hal yang biasa dikalangan pelajar bahkan hamper setiap hari terjadi. Perkelahian tidak hanya terjadi di kota-kota besar tetapi juga sudah sampai ke sekolah-sekolah pedesaan seperti sekolah kita ini yaitu SMAN 1 Soppeng Riaja.
Perkelahian antar pelajar marak terjadi di SMAN 1 Soppeng Riaja karena banyaknya faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut antara lain, faktor internal, faktor ekonomi serta faktor lingkungan. Faktor internal yang memicu biasanya adalah ketidakmatangan diri untuk bersikap dewasa menghadapi masalah yang tengah dihadapi. Perkelahian pelajar biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya baik, pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanak. Ada pula faktor internal yang didapat melalui keluarga yang dimana perilaku-perilaku buruk dalam lingkungan keluarga dapat mendorong anak remaja melakukan hal-hal yang tidak diinginkan sehingga menyebabkan tekanan batin yang diderita dan akhirnya dapat memicu perkelahian antar sebayanya yaitu pelajar. Selain dari faktor internal, ada pula faktor ekonomi dimana seperti hipotesis-hipotesis yang selama ini beredar bahwa perkelahian pelajar hanya terjadi pada para siswa dari kelas ekonomi bawah sebagaimana pendapat Albert K. Cohen yang mengatakan bahwa perilaku kenakalan dikalangan remaja adalah disebabkan oleh kecemburuan mereka terhadap remaja-remaja dari kelas ekonomi menengah keatas, sebagai usaha untuk mendapatkan perhatian dari lingkungan sosialnya. Pelajar yang tidak bisa menahan kesabaran mereka karena selalu diolok dari keluarga miskin, akhirnya mereka berusaha mencari sesuatu yang bisa menjadikan tameng atau tempat berlindung, disinilah geng atau komunitas bergerak, beruaha melindungi anggota geng mereka sehingga para anggota geng ini saling mengejek dan terjadilah perkelahian antara mereka. Faktor lainnya yaitu faktor lingkungan diantaranya yaitu salah memilih teman sepergaulan sehingga mengikuti ajakan ataupun perilaku serta tindakan yang bersifat negative. Dan berbagai faktor-faktor lain yang dapat membuat pelajar memilih perkeahian dalam menyelesaikan masalah mereka.
Perkelahian pelajar merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negative dari pelajar. Pertama, bagi pelajar itu sendiri jelas mengalami dampak negative seperti cedera atau bahkan tewas yang dapatkan dari saling memukul antar sesama pelajar yang berselisih. Kedua, bagi keluarga berupa teguran dari pihak pimpinan sekolah dan warga masyarakat serta peringatan dari pihak kepolisisan. Ketiga, bagi sekolah dapat berupa kerugian materiil yang mungkin timbul seperti rusaknya gedung sekolah maupun peralatan lain akibat dari perkelahian tersebut dan kerugian yang menyangkut nama baik sekolah dalam masyarakat yakni timbulnya kesan sekolah urakan dan menjadi pengawasan dari pihak yang berawajid. Yang keempat, bagi masyarakat yaitu terganggunya ketertiban dan keamanan di lingkungan sekitarnya, kemudian apabila frekuensi perkelahian pelajar demikian tinggi maka tidak mustahil kondisi dan situasi lingkungan masyarakatt yang rawan yang memungkinkan ttimbulnya bibit baru remaja yang nakal.
Para guru sudah melakukan berbagai tindakan untuk mencegah dan menanggulangi perkelahian pelajar agar tidak terjadi di SMAN 1 Soppeng Riaja. Diantaranya adalah mengadakan berbagai macam ekstrakurikuler untuk mengalihkan perhatian para pelajar untuk bertindak negative dan fokus dengan kegiatan ekskulnya. Dan juga memberi hukuman yang berupa bobot yang sesuai dengan buku merah ataupun memberikan skorsing pada mereka yang terlibat dalam perkelahian pelajar. Namun, upaya itu masih belum berhasil dikarenakan masih banyak terjadi perkelahian antar para pelajar di sekolah kita ini.
Kita adalah pelajar Indonesia SMAN 1 soppeng Riaja, sudah seharusnya kita berusaha untuk menggapai cita-cita, berusaha membahagiakan orang tua yang sudah banting tulang membiayai pendidikan kita. Jangan sampai karena perkelahian yang kita lakukan dapat merusak image tersebut. Kita harus mampu membuktikan bahwa kita bisa. Singkirkan sifat egois dan emosi tinggi demi tercapainya cita-cita yang kita impikan.

XII IPA 1/kelompok 4
Disadur dari berbagai sumber…
www.google.co.id/search



0 komentar:

Poskan Komentar